Senin, 03 Februari 2014

HAL DOA


1 Petrus 1:2 "Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu." Allah telah memilih Anda jauh sebelum Anda memilih Dia. Dia lebih dahulu mengambil inisiatif.

Ini Kabar Baiknya: Anda dipilih sesuai dengan rencana Allah. Mengapa Allah memilih Anda atau saya untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya? Karena Dia adalah Allah kasih, Allah kasih karunia. Semakin Anda memahami tentang kasih karunia, maka akan semakin kagum Anda dibuatnya. Allah memilih Anda. Apakah Anda layak mendapatkannya? Tidak sedikit pun. Apakah Anda layak masuk Sorga? Tidak mungkin! 

Apakah Anda cukup baik untuk bergabung dalam keluarga Allah? Tidak. Dia memilih Anda. Dan itu kabar baik. Atas dasar apakah Dia memilih Anda? Pertama dalam 1 Petrus 1:3 dikatakan, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.
" Allah memilih Anda berdasarkan kasih karunia-Nya, bukan karena perbuatan baik Anda. Jika berdasarkan prestasi, maka Anda tidak akan pernah mendapatkannya. Anda tidak akan pernah layak mendapatkannya. Kerja keras tidak akan cukup. Anda tidak akan pernah bisa menjadi manusia sempurna. Hanya karena kasih karunia dan rahmat Allah sematalah Sang Pencipta alam semesta ini berkata: "Aku ingin kau ada dalam keluarga-Ku." Jika kata-kata-Nya ini tidak mendorong Anda, sepertinya Anda harus menilik hati Anda. Katakan bahwa Tuhan itu baik. Haleluyah

Markus 1:35 "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Untuk mendapatkan waktu saat teduh yang efektif, Anda harus memilih waktu khusus untuk bertemu dengan Tuhan setiap harinya dan memutuskan lamanya.
 Inilah aturan yang paling umum: Waktu terbaik adalah ketika Anda tengah berada dalam keadaan terbaik! Berikan Allah bagian terbaik dari hari Anda, ketika Anda paling segar dan paling siap. Jangan coba melayani Tuhan di waktu sisa Anda. Ingat juga, bahwa waktu terbaik Anda mungkin berbeda dengan orang lain. Tetapi bagi sebagian besar dari kita, subuh tampaknya menjadi waktu terbaik. Yesus sendiri pun bangun lebih pagi untuk berdoa dan bertemu dengan Bapa: "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana" (Markus 1:35). Dalam Alkitab, banyak tokoh-tokoh yang bangun pagi sekali untuk bertemu dengan Allah.
Beberapa di antaranya adalah: Abraham (Kejadian 19:27) Musa (Keluaran 34:4) Ayub (Ayub 1:5) Hana dan Elkana (1 Samuel 01:19) Yakub (Kejadian 28:18) Daud (Mazmur 05:3 ;57:7-8) (Lihat juga Mazmur 143:8, Yesaya 26:9; Yehezkiel 12:8) Anda bahkan juga bisa melakukan saat teduh 2 kali dalam sehari (pagi dan malam).

Dawson Trotman, pendiri Navigators, memiliki kode huruf untuk waktu saat teduh malamnya: HWLW. Setiap kali ia tengah bersama dengan sekelompok orang atau di rumah bersama istri di malam hari lalu percakapan tampaknya akan berakhir, ia akan berkata, Oke, waktunya HWLW."HWLW adalah kepanjangan dari "His Word the Last Word" (Firman-Nya adalah Kata yang Terakhir). Dia melakukanya selama bertahun- tahun untuk mengakhiri harinya dengan hati dan pikiran yang tertuju pada Bapa (Betty Lee Skinner, Daws, 1974, hal. 103).
Kapanpun waktu saat teduh yang Anda tetapkan, tetaplah konsisten di dalamnya. Jadwalkan itu di kalender Anda, buatlah janji dengan Allah seperti yang Anda lakukan dengan orang lain. Rencanakan kencan dengan Yesus! Kemudian datanglah, jangan mengingkari janji. Adalah satu pengalaman pahit ketika kita berjanji untuk berkencan, lalu pasangan kita tidak datang.

Begitu pun dengan Yesus, Dia tidak suka jika kita tidak datang. Jadi, apapun yang terjadi, datanglah. Pertanyaan ini sering ditanyakan, "Berapa lama waktu yang harus saya habiskan dengan Tuhan setiap hari?" Jika Anda tidak pernah mempunyai waktu saat teduh yang konsisten sebelumnya, Anda mungkin bisa memulainya dengan tujuh menit dan biarkan ia berjalan dengan sendirinya. Anda harus mencoba menghabiskan waktu tidak kurang dari 15 menit sehari bersama Tuhan.

Lukas 22:39 "Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia." Lokasi tempat Anda bersaat teduh juga penting. Alkitab mengatakan jika Abraham punya sebuah tempat untuk bertemu dengan Allah (Kejadian 19:27).
Yesus pun punya kebiasaan berdoa di Taman Getsemani di Bukit Zaitun: Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia (Lukas 22:39). Tempat saat teduh Anda haruslah menjadi tempat yang terpencil, satu tempat yang tenang di mana Anda bisa sendirian dan tidak terganggu. Di dunia yang bising ini, Anda mungkin memerlukan beberapa siasat untuk mengatasinya, dan itu penting.

Tempat saat teduh haruslah menjadi tempat: Di mana Anda bisa berdoa dengan suara lantang tanpa mengganggu orang lain. Di mana Anda memiliki pencahayaan yang baik untuk membaca (juga sebuah meja, mungkin). Di mana Anda merasa nyaman. (PERINGATAN: Jangan melakukannya di tempat tidur itu terlalu nyaman!) Tempat saat teduh Anda haruslah menjadi sebuah tempat yang spesial. Di mana pun Anda memutuskan untuk bertemu dengan Tuhan, buatlah itu menjadi sebuah tempat yang khusus bagi Anda dan Dia.

Seiring dengan berjalannya waktu, tempat itu akan menjadi begitu berarti bagi Anda karena saat-saat indah yang Anda miliki di sana dengan Yesus Kristus. Tempat saat teduh Anda haruslah menjadi tempat yang kudus. Disinilah Anda bertemu dengan Allah yang hidup.
Tempat Anda bersaat teduh bisa Anda buat sama kudusnya dengan tempat di mana Abraham bertemu Allah. Anda tidak harus melakukannya di dalam gedung gereja. Banyak orang bersaat teduh di dalam mobil mereka yang diparkir di tempat yang sepi, di lemari kosong di rumah, di halaman belakang, atau bahkan di ruang ganti bisbol. Masing-masing tempat-tempat ini menjadi tempat yang kudus buat mereka. Haleluyah... Sudahkah saudara punya tempat untuk Tuhan ?

"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Mat 6:5-8)

Minggu, 02 Februari 2014

KESAKSIAN DR MUHAMMAD FATTAH


Kesaksian Pdt. Dr. Muhammad Fatah

(Disampaikan dalam Forum Arimatea - Jakarta)
Terima kasih, salam sejahtera untuk kita sekalian. Nama saya Muhammad Fatah. Usia 68 tahun, tempat tanggal lahir Karangkobar, 21 Desember 1936. Pendidikan tamat SD tahun 1950, tertunda 2 tahun karena masa itu adalah masa perang kemerdekaan sehingga harus mengungsi kesana kemari. SMP selesai tahun 1953, SMA 1956 di Yogyakarta. Pendidikan dari tahun 1956 hingga 1960 di Fakultas Sosial Politik jurusan Pemerintahan Universitas Gajah Mada, kemudian ditugaskan ke luar daerah dalam rangka pengerahan tenaga mahasiswa untuk mengajar di sebuah sekolah menengah atas di luar Jawa. Pendidikan teologi, pada tahun 1970-1972 pendidikan dasar teologi Kristen, teologi lanjutan 1986, Master of Ministry, teologi lanjutan untuk S-3 jurusan Misiologi tahun 1999. Pengalaman menjadi dosen pada beberapa Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta dan di Jawa Timur, juga di pulau Batam. Pengalaman yang lain adalah tahun 2001, menghadiri pertemuan internasional, Christian Fellowship International, yaitu pelayanan ke penjara-penjara di Johanesburg Afrika Selatan. Tahun 2003, seminar pelayanan di University Technology Sydney Australia, bulan Maret dan April tahun ini, menjadi utusan dari Non-Governmental Organization, HAM ke United Nation High Commission on Human Right Conference di Jenewa (Swiss), bersama-sama dengan 15 orang anggota, yaitu untuk menyampaikan masalah-masalah crime against humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan) yang terjadi di Indonesia, masalah-masalah mengenai buruh migran, masalah-masalah yang terjadi pada bulan Mei 98 (Kerusuhan Mei), masalah Papua, masalah Aceh, masalah orang hilang dan genosida. Itulah pengalaman yang saya alami, dan sebenarnya tadi malam kami diajak untuk menghantarkan atau mengunjungi pemakaman almarhum Munir dari Kontras, tapi karena ada acara disini kami tidak bersedia.

Saya senang sekali bertemu dengan bapak ibu saudara dengan platform bahwa kita semua adalah keturunan Adam dan kita semua adalah orang-orang yang beragama, dan kita semua adalah bangsa Indonesia. Jadi platform yang sangat baik untuk membangun bangsa ini yaitu dari sisi kepentingan bangsa dan negara kita. Terima kasih.

Selanjutnya paparan yang kedua adalah mengapa saya dari seorang Muslim menjadi Kristen. Saya mempunyai suatu pergumulan yang timbul. Jawabannya secara pasti bagi diri saya yang sudah mulai dari tahun 50-an, kemudian ada satu pergumulan karena usia makin bertambah, yaitu suatu problem tentang kepastian keselamatan sesudah orang itu mati. Jadi problem the life after the death (masalah hidup sesudah mati) itu mulai mengganggu saya dari tahun 1962 dan itu berjalan lebih kurang 7 tahun lamanya. Saya belum menemukan bagaimana supaya hati saya mendapatkan suatu kepastian bahwa setelah mati saya tidak akan masuk neraka. Nah pergumulan ini selama 7 tahun, yaitu dari tahun 1962 sampai tahun 1969, dimana pada akhirnya saya mengusahakan mencari jalan yaitu dengan berpuasa 40 hari. Dan pada masa puasa ini banyak perkara-perkara yang terjadi. Sebagai orang Jawa, saya dari Jawa Tengah yang juga tentu bagi masyarakat Jawa pada umumnya ada banyak jenis puasa, misalnya puasa SeninKemis dan sebagainya. Ketika menjalankan puasa itu, problem yang saya hadapi adalah soal kehidupan, bagaimana kehidupan setelah kematian. Tentu ada yang bisa menerima ada yang tidak bisa menerima. Bahwa Tuhan berbicara melalui hal-hal yang konkret, disamping melalui mimpi pun Tuhan bisa berbicara. Juga Tuhan bisa berbicara melalui visi atau penglihatan. Dan pada puasa yang kesembilan belas hari, saya diberikan beberapa visi. Visi ini saya terima dalam keadaan tidak tidur dan tidak bangun karena biasanya jam 3 atau setengah tiga saya bangun, dan pada waktu itulah kami menerima beberapa visi yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Ini tentunya adalah sesuatu yang bersifat pribadi yang tentunya tidak rasional. Beberapa perempuan mendatangi saya dalam visi itu dan mereka sepertinya tengah mengkhotbahi saya. Kemudian setelah itu, ada beberapa orang lagi pendeta yang memakai seragam hitam membawa Alkitab dan mengkhotbahi saya. Lewat lagi seorang pendeta memakai seragam putih membawa Alkitab dan mengkhotbahi saya. Setelah mereka lewat ada 3 orang yang tidak membawa Alkitab tetapi memakai jubah. Dari ketiga orang itu, yang pertama adalah seorang yang tinggi besar dan saya tidak kenal, dan dia memerintahkan pada saya untuk ikut, karena itu saya terus ikut. Yang memakai jubah dan bertubuh tinggi besar itu mempersilahkan saya untuk memilih dari dua jenis minuman, 2 gelas minuman, yaitu teh dan susu. Kemudian gelas yang berisi susu saya sambar.
Kemudian peristiwa itu berlangsung di hari kesembilan belas sampai keduapuluh lima. Dan pada waktu–waktu itu, saat melakukan puasa itu, saya didatangi lebih kurang 100 malaikat, yang mana mereka datang seperti burung dara turun dari langit. Dan kemudian mereka mendarat di depan kami. Peristiwa ini sungguh sangat indah kalau dilihat dengan kacamata telanjang. Malaikat itu membawa almarhumah adik saya. Ternyata bahwa pada peristiwa itu memang adik saya baru saja meninggal tapi saya tidak tahu, dan malaikat yang terdepan itu membawa jenasah adik perempuan saya ini dibawa terbang ke langit arah timur, dan pemandangan ini sangat...sangat mencekam, dan sangat menarik sekali, dan seolah-olah saya ingin mengikuti lebih kurang 100 malaikat itu terbang, saya ingin mengikuti mereka, tapi malaikat yang terakhir kemudian mencabut pedang, dan memberitakan pada saya bahwa waktunya bagi saya belum tiba. Jadi kalau seandainya saya pada waktu itu ikut, maka saya tidak akan ada di sini hari ini. Itulah pemikiran saya, dan saya diperintahkan untuk masuk ke kota, kemudian masuk ke dalam hutan yang lebat, menyeberangi sungai, di dalam hutan itu sangat mengerikan karena gelap gulita; ada banyak pohon besar dan binatang yang buas dan pada saat itulah saya tidak berdaya lagi dan saya tersungkur dalam keadaan ketakutan.
Kemudian saya mendengar satu suara; “Jangan kamu takut, Aku beserta dengan kamu”. Peristiwa ini berlangsung selama masa rentang hari kesembilanbelas dan duapuluh lima. Sebelum visi yang diberikan itu selesai, kemudian ada segumpal api sebesar kepala dan ada buntut-buntutnya datang dari arah timur menabrak muka saya, dan saya sama sekali tidak mengerti apa maknanya. Kemudian yang terakhir ada yang mendatangi saya dari arah tenggara menuju barat daya, ya... ke barat daya; dan waktu itu saya panggil nabi Isa dan dia tersenyum kepada saya. Saya sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Oleh karena ini ada satu hal yang sangat...sangat unik dalam kehidupan pribadi saya, saya tanyakan kepada seorang pendeta yang pada akhirnya pendeta itu juga yang membaptis saya, yaitu almarhum, pendeta Alexander Supit. Pak pendeta apa makna semuanya ini. Pendeta itu mengatakan: “Kalau kamu seorang pembunuh, biasanya Yesus yang sekarang ini saya sebut Dia Tuhan, hanya akan memperlihatkan lambungnya yang kena tombak. Kalau kamu seorang pencuri dia tidak memperlihatkan wajahnya yang penuh kasih itu tapi memperlihatkan tangannya yang berlubang.”

Barangkali ada pertanyaan dari bapak ibu sekalian, kenapa visi-visi ini tidak saya tanyakan kepada para ulama. Waktu itu saya ada di Manado, dan saya ditugaskan untuk mengajar di SMA negeri disana. Jadi komunikasi atau milio disana adalah milio Kristen dan saya tanyakan pada pendeta dengan mengutarakan apa yang tadi sudah saya sampaikan. Dan dari situ saya mengambil satu kesimpulan bagaimana caranya saya bisa diselamatkan dan mendapatkan damai sejahtera dalam hati. Setelah pengalaman itu, saya kemudian menyatakan diri saya sebagai pemeluk agama Kristen; dan tentu saja visi ini adalah sesuatu yang tidak rasional dan tidak bisa dicerna dengan akal pikiran. Oleh karena itulah maka visi-visi yang saya terima dari Tuhan itu mulai saya selidiki dan ternyata ketika saya masih kecil, masih SD, saya pernah bertanya kepada yang mengajar saya (waktu itu saya masih seorang Muslim): “Pak ustad, kalau kepingin ke surga itu bagaimana caranya?” Pak Ustad menjawab: “Wah kamu harus melalui jembatan yang digambarkan seperti kajio rambut pinoro pitu (seperti rambut dibelah tujuh), dan dibawah jembatan itu ada suatu jurang yang dalam dan tidak semua orang bisa.” Kemudian saya coba membayangkan apakah mungkin ada orang yang bisa melewati jembatan itu. Kemudian saya mengambil kesimpulan bahwa ketidak-mungkinan itu karena konsep-konsep yang ada pada diri manusia, sehingga menyebabkan orang tidak bisa menyeberang.
Kepada bapak ibu sekalian dan kepada forum Arimatea ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan untuk waktu yang sangat baik dimana kita semua sebagai bangsa Indonesia, kita semua adalah keturunan Adam, dan kita semua sedang dalam perjalanan untuk mencari kebenaran yang hakiki. Dan di dalam masa transisi bagi kita sekalian yang masih hidup di dunia ini, merupakan suatu berkah bahwa kita bisa berdialog melalui forum Arimatea. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih.

God"s secret of super blessing


The Rise of God’s Economy – Kebangkitan Ekonomi | Mulai Bulan Febuari ini, kita akan menerima satu pesan Tuhan yang sangat spesial, judulnya: God’s Secrets for Super Blessings / Rahasia Tuhan untuk Berkat yang Super!!! Ingat selama Bulan Januari kemarin kita sudah menerima rhema Tuhan bahwa tahun 2014 ini adalah the year of enlargement / tahun memperbesar kapasitas. Jadi salah satu perbesaran kapasitas yang akan Tuhan lakukan adalah kapasitas keuangan kita.
I.   TUHAN AKAN MEMPERBESAR KAPASITAS KEUANGAN KITA).
Terima janji Tuhan: Di tahun 2014 ini Tuhan akan memperbesar kapasitas keuangan kita semua, jemaat Keluarga Allah!!!
Nanti kita akan lihat sepajang tahun 2014 ini: banyak sekali jemaat, pelayan Tuhan, dan PKS Keluarga Allah yang kapasitas keuangannya diperbesar, diupgrade, dan dibawa Tuhan mengalami SUPER BLESSINGS!!!
AKAN TETAPI SAYANGNYA, ADA SEBAGIAN ORANG KRISTEN YANG MASIH MERASA RAGU APAKAH PERBESARAN KAPASITAS KEUANGAN ADALAH KEINGINAN TUHAN: Sebagian orang Kristen berpikir bahwa yang penting kaya rohani, bukan kaya jasmani. TANPA KITA SADARI, KITA SUDAH TERMAKAN OLEH STRATEGI IBLIS:
Iblis memang selalu berusaha mati-matian untuk menipu orang Kristen dengan konsep-konsep yang salah bahwa menjadi KAYA ITU TIDAK ROHANI, BICARA TENTANG UANG ITU TIDAK ROHANI, LEBIH BAIK ITU TIDAK DIBICARAKAN DI GEREJA. JANGAN SAMPAI KEUANGAN DIKHOTBAHKAN DI GEREJA.
MENGAPA? Pertama, BIAR KEBENARAN FIRMAN TUHAN TETAP TERSEMBUNYI, BIAR ORANG KRISTEN TETAP MISKIN, SEHINGGA TIDAK BISA JADI BERKAT. Kedua, BIAR ORANG KRISTEN BELAJAR MENJADI KAYA DARI ORANG DUNIA SAJA / BUKAN DARI PENGAJARAN FIRMAN TUHAN Ketiga, SUPAYA YANG KAYA BIAR ORANG DUNIA SAJA, YANG PUNYA UANG DAN POWER BIAR ORANG YANG TIDAK CINTA TUHAN SAJA.
Inilah taktik dan strategi yang berhasil Iblis lancarkan kepada gereja Tuhan, sehingga di banyak gereja, bicara tengan keuangan dan menjadi kaya itu adalah sebuah topik yang tabu, ada banyak kecurigaan, pemikiran negatif, dan konsep-konsep yang salah.
Sekarang mari kita lihat apakah memang Tuhan ingin memperbesar kapasitas keuangan kita atau tidak?! Mari kita teliti apakah Tuhan memang ingin anak-anaknya hidup diberkati atau tidak!!! Ulangan 8:18
Perhatikan baik-baik: DIA MEMBERI KEKUATAN UNTUK MEMPEROLEH KEKAYAAN!!!
Kalau jadi kaya itu tidak rohani, bahkan duniawi, mengapa Tuhan repot-repot memberi kita kekuatan untuk memperoleh kekayaan?!  Yesus memerintahkan kita untuk berdoa: DATANGLAH KERAJAANMU, JADILAH KEHENDAKMU, DI BUMI SEPERTI DI SURGA!!! Artinya kalau di Surga, semua orang diberkati, di bumipun Tuhan juga mau kita semua anak-anakNya diberkati – diperbesar kapasitas keuangannya!!! Kalau di Surga, Bait Allah begitu penuh kemuliaan, maka Tuhan juga mau di bumipun gerejaNya penuh dengan kemuliaan!!! Ini yang akan Tuhan lakukan bagi kita semua di tahun 2014 ini.
II. GOD’S SECRETS FOR SUPER BLESSING IS GOD’S ECONOMY (RAHASIA DARI TUHAN UNTUK MENGALAMI BERKAT SUPER ADALAH EKONOMI TUHAN)
Kalau kita ingin mengalami perbesaran kapasitas keuangan dari Tuhan, maka kita harus mengerti bahwa CARA TUHAN MEMPERBESAR KAPASITAS KEUANGAN KITA ADALAH MELALUI PRINSIP-PRINSIP EKONOMI KERAJAAN ALLAH (GOD’S ECONOMY).
Dengan kata lain, Tuhan punya prinsip-prinsip keuangan tertentu yang Dia mau ajarkan kepada kita, dan kalau kita bisa menangkap dam mempraktekkan prinsip-prinsip keuangan tersebut, maka kita akan mengalami super blessing dari Tuhan!!!
SETIAP KELUARGA PUNYA PRINSIP-PRINSIP KEUANGAN TERTENTU… SETIAP NEGARA JUGA PUNYA PRINSIP EKONOMI YANG DIANUTNYA…
DEMIKIAN JUGA, KERAJAAN ALLAH PUNYA PRINSIP-PRINSIP KEUANGAN TERTENTU UNTUK MENDATANGKAN KEKAYAAN, KEMAKMURAN, DAN KELIMPAHAN BAGI UMAT TUHAN!!!
God’s Economy ini yang dipraktekkan oleh Raja Salomo sehingga Bangsa Israel mengalami super blessings: kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan yang luarbiasa!!!
Ketika Eropa dan Amerika mengalami lawatan Allah yang luarbiasa, mereka juga mempraktekkan God’s Economy ini Dubai yang mengirim orang-orangnya untuk belajar di Amerika, mereka pulang dan mulai melakukan prinsip-prinsip yang sama, akibatnya mereka sekarang menjadi sangat makmur. Korea, Jepang, Singapore juga mengalami hal yang sama.  Bahkan Cina yang tadinya begitu miskin ketika menganut sistem komunis murni, mulai membuka diri dan belajar dari Amerika, kemudian mempraktekkan di negaranya, akibatnya negara itu sekarang mengalami ledakan super blessings yang luarbiasa.
NEGARA-NEGARA YANG BARU MEMPRAKTEKKAN SEBAGIAN SAJA PRINSIP EKONOMINYA TUHAN, SUDAH MENGALAMI BLESSINGS YANG SEBESAR ITU. APALAGI KALAU KITA, ANAK-ANAKNYA, MAU MEMPRAKTEKKAN SEPENUHNYA PRINSIP-PRINSIP DALAM GOD’S ECONOMY INI, MAKA KITA AKAN MELIPAT SUPER BLESSING YANG SANGAT HEBAT: KELIMPAHAN DARI SEBERANG DAN KEKAYAAN BANGSA-BANGSA AKAN DIPINDAHKAN KEPADA KITA!!!
Tahukah andabahwa karena mempraktekkan God’s Economy ini, maka Orang Yahudi yang jumlahnya hanya beberapa juta saja di dunia, tapi bisa menguasai 80% ekonomi Amerika Serikat?! Bahkan diperkirakan mereka menguasai 60% ekonomi dunia!!!
Jangan sampai orang dunia di luar sana dengan getol sekali berusaha belajar dan mempraktekkan God’s Economy dan mengalami super blessings, sedangkan kita anak-anak Tuhan masih meributkan apakah kita sebagai orang Kristen diberkati atau tidak, sehingga akhirnya kita tidak mendapat apa-apa.
Bagaimana kita mulai mengikuti prinsip-prinsip dalam Ekonomi Tuhan ini?!
III. STARTING LINE IN GOD’S ECONOMY: CAN BE TRUSTED WITH LITTLE THINGS (GARIS START DALAM EKONOMI TUHAN: BISA DIPERCAYA DENGAN PERKARA KECIL).
KALAU KITA INGIN MAKMUR DAN SUKSES DENGAN CARA TUHAN, MAKA KITA HARUS MENGERTI PRINSIP-PRINSIP KERAJAAN ALLAH ini. Itu sebabnya mari kita perhatikan seperti apa prinsip Kerajaan Allah itu.
Matius 25:14  Perhatikan baik-baik: INILAH PRINSIP KERAJAAN ALLAH – KITA HARUS MENJADI HAMBA YANG BISA DIPERCAYA!!! Jadi prinsipnya adalah kepercayaan!!! TUHAN PEMILIK SEGALANYA, SEDANGKAN KITA ADALAH HAMBA KEPERCAYAANNYA… PENGELOLA KEPERCAYAANNYA…
Dan prinsip Kerajaan Allah mengajarkan kepada kita bahwa kalau kita ingin makmur dan sukses, maka kita harus masuk dalam prinsip pengelola – kita jadi pengelola kepercayaanNya Allah.
Bagaimana kita tahu bahwa kita adalah pengelolanya Allah?! Sewaktu kita MENYADARI BAHWA HARTA KITA BUKAN MILIK KITA, TAPI KEPUNYAAN ALLAH YANG DIPERCAYAKAN KEPADA KITA UNTUK DIKELOLA.
JADI FOKUS UTAMANYA BUKAN KITA, TAPI TUHAN. Dan yang luarbiasa karena fokusnya bukan kita yang kecil, tapi Tuhan yang besar, maka berkat yang dipercayakan kepada kita justru lebih banyak, kapasitas anugerah yang Tuhan berikan justru lebih besar, supaya rencana Tuhan tergenapi: melalui hidup kita, semua kaum di muka bumi diberkati!!! SEBENARNYA KALAU KITA MAU BERPIKIR, MAKA KITA AKAN MENYADARI BAHWA MEMANG KITA TIDAK BISA MEMILIKI APAPUN DI DUNIA INI.
Jadi sadarilah bahwa semua yang ada pada kita sekarang ini adalah ‘titipan’, atau lebih tepatnya ‘kepercayaan’ Tuhan saja. Itu sebabnya jadilah hamba yang bisa dipercaya, pengelola yang bisa dipercaya!!!
Pertanyaannya: BAGAIMANA KITA BISA MENJADI HAMBA YANG DIPERCAYAI? BAGAIMANA KITA BISA MENDAPATKAN KEPERCAYAAN TUHAN?
Matius 25:21   Perhatikan baik-baik kunci menjadi hamba yang bisa dipercaya: SETIA DALAM PERKARA KECIL!!! Sebelum Tuhan bisa mempercayakan kekayaan yang besar kepada anda, Tuhan ingin menguji kita dengan kekayaan yang kecil. Apakah kita bisa ditemukan setia?!
IV.    UJIAN PERTAMANYA ADALAH PERSEPULUHAN.
Apa itu persepuluhan?! Persepuluhan adalah sepersepuluh atau 10% dari penghasilan anda!!! Buat Tuhan, ini adalah ujian perkara kecil. Ini starting line in God’s economy! Inilah garis awal kita masuk dalam sistem keuangannya Tuhan: Bisa dipercaya dalam perkara kecil!!! KALAU MENTAATI PERINTAH MENGEMBALIKAN 10% SAJA BERAT, BAGAIMANA MUNGKIN KITA BERHARAP TUHAN AKAN MELIPATGANDAKAN BERKAT KEPERCAYAANNYA KEPADA KITA.
Kita harus mengerti bahwa setiap pengelola kepercayaan Tuhan selalu terlebih dahulu lulus dalam ujian perkara kecil ini!!! Abraham, Yakub, Musa memberikan persepuluhan. Yesus juga memerintahkan kita untuk persepuluhan. Jadi Perjanjian Lama dan Perjanjian baru sama-sama memerintahkan kita untuk mengembalikan persepuluhan. Mengapa mereka persepuluhan? Mengapa Tuhan suruh? Mengapa 10%, kenapa tidak 100%? Ingat baik-baik: Tuhan tidak menguji anda dengan perkara yang besar, Tuhan menguji anda dengan perkara yang kecil. Baik yang miskin maupun yang kaya sama-sama 10%. Jadi komitmennya sama. Jadi 10 persen itu untuk setiap orang. Kepada para profesional / karyawan: persepuluhan adalah 10% dari penghasilan kita (gaji, bonus, komisi). Pengusaha: persepuluhannya adalah 10% dari keuntungan yang anda dapatkan. Kepada mahasiswa: persepuluhan adalah 10% dari uang saku. Kepada pensiunan: persepuluhan dari uang pensiun anda. Kepada ibu rumah tangga: persepuluhan adalah 10% dari uang belanja anda. Bagaimana kalau penghasilan kita NOL? Yah, 10% dari NOL ya NOL, jadi anda tetap pengembali persepuluhan. Itu sebabnya mulai dengan komitmen. Maka Tuhan akan membuat NOL itu menjadi PENUH. Jadi yang terbaik adalah setiap kali kita terima penghasilan, kita langsung kesampingkan yang 10% dan kemudian setiap minggu kita ke gereja, kita bawa persembahan persepuluhan kita. Dalam Perjanjian Lama, kalau kita menggunakan persepuluhan untuk hal yang lain, maka ada konsekwensinya – kita harus membayar 20%. Tapi dalam perjanjian baru, kita ada di bawah GRACE / ANUGERAH, artinya ini bukan sebuah paksaan / kita bukan sekedar harus melakukannya; sebaliknya, KITA SUKA MELAKUKANNYA BAGI TUHAN KARENA KITA MENGASIHI TUHAN.
Mungkin ada yang berkata: BESOK SAJA KALAU PENGHASILAN SAYA SUDAH 10 JUTA ATAU 100 JUTA ATAU 1 MILYAR, BARU SAYA PERSEPULUHAN. INI TIDAK MUNGKIN! Kalau kita tidak bisa persepuluhan dari Rp 1 juta, maka kita tidak bisa persepuluhan dari yang lebih besar. Pertanyaan yang perlu kita ajukan untuk diri kita sendiri adalah: SEBELUM TUHAN BISA MEMBERI KEPERCAYAAN KEPADA KITA, APAKAH TUHAN BISA PERCAYA PADA KITA?! Kuncinya adalah mendapatkan TRUST-nya Tuhan… mendapatkan RASA PERCAYA Tuhan, maka otomatis TALENTA-TALENTANYA yang berharga akan dipercayakan kepada kita. HARI INI SADARLAH BAHWA SEBAGAI PENGELOLANYA TUHAN, KITA HARUS MEMBUKTIKKAN DIRI BISA DIPERCAYA PERKARA KECIL. ITU SEBABNYA SAYA TANTANG SETIAP ORANG DI TEMPAT INI UNTUK AMBIL KOMITMEN MENJADI PENGELOLA YANG BONAFID DAN BISA DIPERCAYA TUHAN!!! SETIALAH DALAM PERKARA KECIL!!! SETIALAH DALAM PERSEPULUHAN!!!
Marilah kita menjadi orang yang dapat dipercayai mulai dari hal yang paling kecil oleh Tuhan, sehingga Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang sangat besar dalam hidup kita! (Khotbah GBI KA Solo) GBU

Rabu, 22 Januari 2014

KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN DENGAN HARGA KETULUSAN

Matius 5:44 "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Di zaman ini, di gereja-gereja, kita bisa menulis surat kritikan atau keluhan kepada sesama anggota jemaaat. Dan tampaknya slogan gereja sudah berubah menjadi "Berkati aku dan keluargaku saja." Saat ini gereja menjadi berjalan sendiri-sendiri. Saya mengenal orang-orang yang mengkritik saya karena mereka tidak suka dengan gereja yang saya libatkan dalam penginjilan kami: "Mengapa Anda membiarkan gereja itu datang? Jika gereja itu datang, gereja kami tidak akan bergabung." Atau "Kenapa Anda membiarkan pendeta itu berkotbah di kebaktian Minggu kita? Saya tidak setuju dengan pendeta itu, karena dalam salah satu bukunya, dia mengutip seseorang yang pengajarannya tak sesuai dengan kita. Saya tidak mau ada berhubungan dengan orang itu." Tapi biasanya saya akan berkata pada mereka, "Lihatlah sisi-sisi penting yang sama-sama kita sepakati atau pahami, kita bisa bekerja bersama-sama, meskipun ada beberapa perbedaan kecil. Semuanya itu hanya demi Injil Kristus. Itulah yang saya coba lakukan." Jika orang ingin menarik diri karena perbedaan ini, saya tidak akan memaksa. Tapi saya akan terus melakukan apa yang saya lakukan, dan terus memberitakan Injil dan berusaha menjangkau orang sebanyak mungkin untuk bergabung dengan saya. Begitu pun saya sebaliknya. Masalahnya adalah kadang ada orang yang kita tidak ingin Injili, karena jika boleh jujur pada diri sendiri, kita tidak ingin mereka datang kepada Kristus. Namun, kebenaran Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengasihi musuh-musuh kita (Matius 5:44). Jadi inilah saran saya untuk Anda : Dekati mereka. Bawalah pesan Injil kepada orang-orang yang telah menyinggung dan menyakiti Anda.
Kolose 1:28 "Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus." Ukuran keempat dari pertumbuhan rohani adalah keterampilan. Keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan santai dan teliti. Anda mengembangkan sebuah keterampilan bukan dengan mendengarkan ceramah, tetapi dengan praktek dan pengalaman. Dalam kehidupan Kristen, ada beberapa kecakapan tertentu yang harus Anda kembangkan untuk menjadi dewasa dalam iman: keterampilan belajar Alkitab, keterampilan pelayanan, keterampilan bersaksi, keterampilan berelasi, keterampilan manajemen waktu, dan banyak lainnya. Keterampilan tadi adalah "tata cara" dari pertumbuhan rohani. Pengetahuan dan sudut pandang berhubungan dengan hikmat. Keyakinan diri dan karakter berhubungan dengan sifat dasar manusia. Keterampilan berhubungan dengan praktek. Kita harus menjadi "pelaku firman", bukan hanya menjadi pendengar" (Yakobus 1:22). Segala tindakan yang kita lakukan membuktikan jika kita adalah milik keluarga Allah. Yesus berkata, "Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya" (Lukas 8:21). Ada banyak orang percaya yang frustasi hari ini karena mereka tahu apa yang harus dilakukan. tapi tidak pernah diajarkan bagaimana melakukannya. Mereka mendengar banyak nasehat tentang betapa pentingnya mempelajari Alkitab, tapi tidak ada yang menunjukkan pada mereka bagaimana melakukannya. Mereka dididik untuk merasa bersalah atas kehidupan doa yang lemah, tapi tidak ada yang memberikan waktunya untuk menjelaskan bagaimana cara membuat daftar doa, bagaimana cara memuji karakter Allah dengan menyebut nama-Nya, dan bagaimana cara berdoa bagi orang lain. Desakan yang tanpa penjelasan, menyebabkan frustrasi. Setiap kali kita mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, kita bertanggung jawab untuk menjelaskan dengan tepat bagaimana cara melakukannya. Jika Anda ingin gereja Anda menghasilkan orang-orang Kristen yang bertumbuh, maka Anda harus mengajarkan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan dan pelayanan. Ingatlah bahwa keterampilan adalah kunci dalam meraih efektifitas dalam hal apa pun. "Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat" (Pengkhotbah 10:10). Renungkan hal ini: Keterampilan pertumbuhan rohani apa yang perlu Anda kembangkan dalam hidup Anda? Dalam hal apa Anda bisa mengajarkan keterampilan pertumbuhan rohani Anda kepada kelompok studi Alkitab, gereja, atau lingkungan Anda?
“Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.” (Pkh 10:10)

Sabtu, 18 Januari 2014

BEKERJA DENGAN MATA TERTUJU KEPADA TUHAN



Kisah Para Rasul 9:26-27 "Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus." Anda mungkin berpikir bahwa setelah mendengar pertobatan Saulus, yang kemudian dikenal sebagai Paulus, gereja mula-mula akan memberinya sambutan hangat. Tapi faktanya orang-orang percaya di sana ternyata masih curiga, dalam Kisah Para Rasul 9:26 tertulis, "

Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid." Mereka pasti berpikir, "Benarkah? Mm... mustahil, tidak mungkin ia menjadi Kristen" Di mana iman mereka? Tetapi hal yang sama juga terjadi pada kita. Ketika kita mendengar seseorang yang bertobat lalu menjadi Kristen, kebanyakan dari kita mungkin merespon, "Oh, saya tidak yakin apakah saya harus benar-benar mempercayainya." Bahkan setelah seseorang membuat komitmen dengan Kristus, kadang ada iman tidak percaya kita yang masih tertinggal, sehingga kita menjadi sangat cepat mengkritik: "Dia bukan orang Kristen. Hidupnya masih menyimpang." Benar, orang tersebut seharusnya berhenti menjalankan cara hidupnya yang lama, tapi saya tidak serta merta mengatakan dia bukan seorang Kristen. Menurut saya mereka ibarat bangunan yang belum jadi. Mungkin kita harus mengalungkan tanda kecil di leher mereka, bertuliskan "Sedang dalam pembangunan."

Apakah kita sudah lupa bagaimana rasanya ketika pertama kali kita mulai berjalan bersama Kristus? Rasanya sama dengan yang sedang dialami orang percaya baru. Mereka belum tahu cara Tuhan bekerja. Saya tidak memaklumi dosa siapa pun, tetapi kita semua juga harus bertumbuh, bukan? Meskipun Saulus telah bertobat, banyak orang Kristen yang pada saat itu tidak percaya. Lalu datanglah Barnabas, salah satu anggota jemaat mula-mula di Yerusalem, yang memperkenalkan Paulus kepada para rasul. Dia juga meyakinkan pengikut Yesus jika Saulus sudah menjadi bagian dari murid-murid Yesus sejak ia melihat Tuhan dan mengajar di Damsyik. Kita membutuhkan lebih banyak orang seperti Barnabas hari ini. Nama Barnabas berarti "anak penghiburan." Kita membutuhkan orang-orang yang memberi dorongan, karena sering kali orang percaya baru tergelincir setelah mereka datang kepada Kristus.
Membuat orang bertobat, atau istilahnya memenangkan jiwa itu terlalu mudah. Tetapi untuk memelihar jiwa yang sudah dibawa kepada Kristus itu yang harus diusahakan terus menerus. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan, sesuai dengan Firman Tuhan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."” (Mat 28:19-20)

1.       Memuridkan, menjadikan murid untuk orang (jiwa) yang sudah dimenangkan. Bukan konsep Agama Kristen yang diajarkan, tetapi konsep Allah berdasarkan kitab suci. Sehingga setiap jiwa yang dibawa kepada Kristus bukan harus menjadi “Kristen” (Agama), tetapi hidup dengan Tuhan didalamnya. Bukan hanya status, tetapi perubahan hidup yang nyata. Dari seorang yang jahat berubah menjadi  hidup yang benar, berubah konsep kehidupannya. “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” (2Kor 5:15-16). Pengajaran yang kuat murni kebenaran akan membuat setiap pribadi melekat kepada Tuhan Yesus. Berakar dan bertumbuh, bahkan berbuah bagi kemuliaan Tuhan. Haleluyah

2.       Ajar mereka melakukan segala sesuatu yang sudah diperintahkan Tuhan, artinya menghidupi kebenaran itu sendiri dan menjadi pelaku Firman. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). Melakukan lebih utama dibanding hanya sekedar menjadi orang yang beragama Kristen, banyak orang Kristen masih jahat karen mereka tidak diajar untuk menjadi pelaku kebenaran, dan mereka tidak selamat. Gereja harus kembali kepada panggilan semula sebagai pusat pembelajaran. “dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."” (Yes 2:3)

3.       Penyertaan Tuhan nyata, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Setiap orang percaya yg sudah dimuridkan, diajar dengan benar akan penuh pengharapan bahwa Tuhan menyertai setiap langkahnya. Langkah yang benar dan memuliakan Tuhan tentunya. Mereka tidak akan merasa takut, kawatir dan stres menghadapi gelombang kehidupan, mereka akan mengerti rencana Tuhan didalam kehidupannya dan selalu bersyukur, serta mensyukuri setiap sekecil apapun berkat Tuhan yang sudah diterima. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1Tes 5:18)

Hari ini, hari yang diciptakan Tuhan bagi kita untuk  menjadi jemaat (orang percaya) yang dapat mengerjakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya. Tuhan memberkati saudara dan marilah kita mengerjakan setiap pekerjaan seolah bagi Tuhan kita bekerja, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23). Serta melayani Tuhan karena kepercayaan yang sudah dipercayakan kepada kita, hormati panggilan itu dan diberkati Tuhan setiap langkah kita. Haleluyah

Kamis, 16 Januari 2014

Surat Efesus : Penjabaran Rencana Allah yang kekal



Surat Efesus merupakan surat yang penting sekali bagi Jemaat pada akhir zaman. Di dalamnya terdapat kunci untuk mengerti dan menggenapi rencana Allah yang kekal. Surat Efesus ditulis oleh Paulus kepada Jemaat di Efesus dari penjara di Roma sekitar tahun 60-61. Surat ini adalah yang pertama dari “surat penjara” lainnya, yaitu surat Filipi, Kolose dan Filemon. Surat Filipi diantarkan oleh Epafroditus, yang dikirim pulang oleh Paulus sesudah pulih dari penyakitnya  (Fil. 2:25-30). Kemudian, Tikhikus bersama Onesimus mengantarkan Surat Kolose, Surat Filemon (Kol 4:7-9), dan juga Surat Efesus (Efesus 6:21-22).
Jemaat Efesus adalah jemaat yang dirintis oleh Rasul Paulus. Paulus tiba di Efesus dalam perjalanan yang kedua, lalu bertemu dengan dua belas orang murid yang sebelumnya sudah dilayani oleh Apolos namun sayangnya hanya paham tentang pertobatan dan baptisan Yohanes. Mereka belum menerima baptisan air secara Perjanjian Baru, yaitu baptisan air dalam nama Tuhan Yesus Kristus, serta belum menerima baptisan Roh Kudus. Paulus pun mengajar dan membaptiskan mereka. Kemudian, jemaat Efesus didirikan oleh Rasul Paulus dan dilayaninya selama hampir tiga tahun (Kis 19:10; Kis 20:31). Selama tiga bulan Paulus mengajar di sinagoga, tetapi sesudah dianiaya ia pindah ke rumah Tiranus di mana ia mengajar setiap hari selama dua tahun. (Kis 19:8-10). Dalam kurun waktu itulah, seluruh Asia mendengar berita Injil.

Surat Efesus ditulis untuk mendorong dan menguatkan jemaat di Efesus supaya mengenal rahasia kehendak Allah sebagai persiapan kegenapan waktu (Ef. 1:9-10). Sebelumnya, Paulus sudah mengingatkan jemaat itu bahwa akan ada dua bahaya yang mengancam mereka (Kis. 20:29-30). Pertama, akan timbul serigala ganas, yaitu guru-guru palsu yang akan masuk dari luar dengan pengajaran yang menyesatkan, dan kedua, akan ada para pemimpin dari dalam yang akan muncul untuk mengambil alih arah dan menarik-menarik murid-murid dari jalan yang benar.

Karena itulah, ketiga pasal pertama dalam Surat Efesus menjelaskan rahasia Injil yang menjadi dasar kebenaran, yaitu kasih karunia, penebusan dan keselamatan.  Lalu dalam ketiga pasal berikutnya, secara praktis digambarkan kehidupan sebagai jemaat yang benar dan cara hidup dalam kebenaran sehari-hari.
Surat Efesus tidak bersifat surat pribadi. Paulus tidak membicarakan dirinya atau hubungan pribadinya dengan salam khusus kepada sahabat-sahabatnya. Tidak juga dibicarakan masalah spesifik dalam jemaat sebagaimana yang ada dalam Surat 1 Korintus atau Galatia, ataupun pengajaran spesifik tentang bentuk dan pelayanan sidang seperti dalam suratnya kepada Timotius. Tidak juga diajarkan doktrin dasar seperti dalam Roma. Surat Efesus berfokus pada memberitakan rencana Allah yang kekal. Sebagai peletak pondasi serta ahli bangunan yang cakap, Paulus memberi gambar yang besar mengenai rencana kekal Allah.
Surat Efesus mengandung visi dan wahyu tentang rencana dan maksud abadi Tuhan. Untuk itulah, Paulus menuliskan di dalamnya tentang doa, penyembahan, nasehat dan pengajaran yang semuanya berfokus kepada kemuliaan Kristus dalam Jemaat (Ef. 3:21). Untuk memahaminya lebih jelas, mari kita lihat isi masing-masing pasal.

Efesus 1: maksud abadi Allah yang dari semula. Dalam pasal ini, djelaskan bagaimana kita “di dalam Kristus” diberkati, dipilih, ditentukan oleh Allah supaya kudus dan tak bercacat di hadapanNya sebagai anak-anakNya. Hal itu terjadi oleh darahNya yang membawa penebusan dan pengampunan dosa karena kasih karuniaNya. Kita dimeteraikan oleh Roh Kudus sebagai jaminan (Ef. 1:13-14). Karena itu, Paulus berdoa untuk Jemaat supaya penuh dengan Roh dan supaya mereka mengalami/menggenapi maksud abadi Allah yang luar biasa, di mana Jemaat sebagai Tubuh duduk bersama Kristus sebagai Kepala dalam tempat sorgawi.

Efesus 2: Jemaat sebagai Bait Allah (Ef. 2:21). Jemaat digambarkan sebagai satu Rumah Allah yang terdiri dari orang Yahudi dan orang kafir yang dibangunkan bersama. Kita semua dahulu mati dalam pelanggaran di bawah kuasa dosa, kedagingan, dunia dan Iblis.  Rahmat Allah menghidupkan, membangkitkan dan memberikan kita tempat di rumah sorgawi. Semuanya adalah karena kasih karunia dan bukan karena perbuatan kita. Karena itu, kedudukan atau status kita tidak berdasarkan keadaan lahiriah kita. Walaupun kita orang kafir, bukan orang Israel dan sebenarnya tidak berhak menerima janji Allah serta jauh dari Allah, namun “di dalam Kristus” kita dipersatukan dengan Bangsa Israel yang percaya, kita dipersatukan dengan Allah. Perseteruan ditiadakan. Hukum Taurat dibatalkan oleh salib. Ada “satu manusia baru!” Manusia baru itu menjadi Bait Allah, bangunan Allah yang menjadi tempat kediaman Allah.

Efesus 3: Jemaat terlihat sebagai Keluarga Kristus yang terikat dalam kasih (Ef. 3:15). Inilah rahasia Kristus. Karena berita Injil, orang Yahudi dan orang Kafir yang percaya dipersatukan di dalam Kristus. Inilah rahasia anugerah yang “berabad-abad tersembunyi dalam Allah”.  Kita menjadi anak-anak dan menerima namaNya sebagai turunan Allah. Karena berita itu yang begitu luar biasa, Paulus berdoa supaya kepenuhan kasih Kristus akan diam dan berakar dalam kita. Dengan itu Jemaat akan penuh dengan seluruh kepenuhan Allah. Selanjutnya, Paulus memberi nasihat bagaimana Jemaat dapat hidup sesuai dan berpadanan dengan panggilan itu untuk mencapai maksud abadi Allah dalam kehidupan dan hubungan kita sehari-hari (Ef. 4:1).

Efesus 4: bagaimana Jemaat dapat hidup sebagai Tubuh Kristus (Ef. 4:16). Sebagai satu Tubuh, kita dipersatukan oleh pekerjaan tiap-tiap anggota. Dengan sifat penuh rendah hati, lemah lembut, sabar, penuh kasih dengan saling membantu, kita dipanggil untuk memelihara persatuan Roh. Untuk itu secara keseluruhan Kristus juga sudah memberikan lima jawatan: para rasul, nabi, penginjil, gembala dan guru untuk melengkapi setiap orang kudus sampai sanggup saling melayani, mencapai kesatuan, kedewasaan dan menjadi seperti Kristus. Dengan pelayanan itu Jemaat dipersatukan sebagai Tubuh dengan Kepala dalam kasih. Untuk itu, secara pribadi, masing-masing kita harus menanggalkan manusia yang lama yang duniawi, penuh hawa nafsu dan pencemaran dan mengenakan manusia barudalam kebenaran dan kekudusan.

Efesus 5: Jemaat sebagai Pengantin Perempuan Kristus (Ef. 5:31-32). Jemaat akan diperhadapkan kepada Allah dalam kekudusan dan kemuliaan.  Sebagai anak-anak Allah kita hidup dalam kasih, dalam kekudusan, dalam terang. Kita harus memperhatikan bagaimana kita hidup, mengerti kehendak Tuhan dan hidup tunduk satu kepada yang lain. Hubungan isteri dan suami digambarkan sebagai pola hubungan Jemaat dan Kristus. Sebagaimana isteri tunduk kepada suami, demikianlah Jemaat tunduk kepada Kristus. Sebagai Kristus mengasihi dan menyerahkan diriNya bagi Jemaat, untuk menempatkannya dengan kemuliaan dan kekudusan, demikianlah suami mengasihi isterinya. Inilah sebagian dari rahasia besar maksud abadi Allah.

Efesus 6: Jemaat sebagai Tentara Allah (Ef. 6:11). Jemaat perlu tetap bertahan dalam peperangan dan menang atas segala pekerjaan Iblis. Pasal ini mulai dengan meneruskan tema penundukan satu kepada yang lain. Anak-anak perlu tunduk kepada orang tuanya. Hamba-hamba perlu tunduk kepada tuanya. Demikianlah bapa-bapa perlu mendidik anak-anaknya dan tuan-tuan harus menjauhkan ancaman dari bawahannya. Tetapi pada akhirnya. kita semua wajib berjuang sebagai tentara Allah dengan “mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah.” Musuh kita bukan manusia tetapi Iblis, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia, roh-roh jahat di udara. Kalau kita dilengkapi dengan senjata rohani kita akan bertahan dan menang. Dengan berdoa dan berjaga, kita juga mengambil bagian dalam pemberitaan rahasia Injil.
Selain pembahasan per pasal ini, perhatikan juga bahwa Jemaat Efesus akhirnya meninggalkan kasih yang mula-mula (Why. 2:4). Nampak bahwa walaupun Jemaat itu diberi pengetahuan yang luar biasa itu tentang rahasia Tuhan, ternyata pengetahuan saja tidak cukup. Tiap hari kita perlu mempertahankan hidup yang penuh dan melimpah dengan kasih kepada Tuhan dan kepada semua saudara. Hanya dengan mengenal pewahyuan rahasia maksud abadi Allah bersama dengan melakukan segala tanggung jawab sebagai orang kudus, anggota Tubuh Kristus, kita akan mencapai tujuan yaitu mengenal dan menggenapi rahasia kehendak Allah sebagai persiapan kegenapan waktu. Mari, jangan hanya mempelajari Surat Efesus, namun kita lakukan juga bagian kita masing-masing dalam menggenapi maksud abadi Allah ini! 
Belajar tidak ada habisnya, saat masih hidup ingin lebih layak lagi. Haleluyah

MENCARI KESUKAAN SIAPA ?




“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Gal 1:10)
Rasul Paulus mempunyai ketegasan dalam menentukan arah pelayanan dengan benar, bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri sendiri. Dia tidak katakan, adakah "kau" cari. Tetapi dia mengatakan adakah kucari kesukaan manusia, atau kesukaan Allah. sehingga seolah tidak memberikan beban kepada orang lain, tetapi jelas untuk dirinya sendiri, walaupun akhirnya surat itu bagi semua jemaat di Galatia, tetapi sekarang buat kita semua.

Setiap orang perlu yang namanya : Pengakuan dari siapapun (orang lain), bisa orang dekat, suami, istri, teman, sahabat, anak, orang tua, bahkan pimpinan, bawahan, jemaat dan organisasi. Bahkan orang yang baru dikenalnya, dan yang belum dikenal, dengan tujuan supaya dirinya akan diakui, dan menjadi terkenal dalam bidangnya, apapun itu namanya. Firman Tuhan mengatakan dengan tegas seperti ini : “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23) Artinya, setiap perbuatan atau pekerjaan harus kita kerjakan seolah untuk TUHAN, sehingga kalau pekerjaan yang kita lakukan hanya butuh pengakuan dari orang lain, maka pekerjaan tersebut tidak akan ada artinya. Bahkan bisa dikatakan percuma, dan tidak akan berdampak kepada kehidupan kekal.
Hambatan yang sering kita hadapi ada beberapa hal, antara lain :
1.       Takut dibenci orang lain, bisa orang dekat maupun orang jauh. Dengan menegur, mengajar sesuai dengan kebenaran akan selalu beresiko untuk tidak disenangi oleh orang lain, dan Tuhan sudah mengingatkan kepada kita : “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat 10:22) Jadi kalau karena dibenci, atau dijauhi teman, sahabat, pacar, orang tua, anak lalu tidak bertahan, maka orang tersebut tidak selamat. Tetapi apapun resikonya kita harus melayani dengan tegas sesuai dengan Firman Tuhan, supaya banyak jiwa dimenangkan, kecuali orang tersebut sudah memilih untuk tidak diselamatkan.

2.       Takut kehilangan, bukan hanya harta, tetapi juga takut kehilangan orang tua, anak, suami, istri, bahkan nyawa. Ingatlah bahwa semua yang ada akan sirna, saat akhir zaman, “Mereka tidak dapat diselamatkan oleh perak atau emas mereka pada hari kegemasan TUHAN, dan seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu-Nya; sebab kebinasaan, malah kebinasaan dahsyat diadakan-Nya terhadap segenap penduduk bumi.” (Zef 1:18) Keselamatan itu lebih penting daripada semua yang kita miliki sekarang, sementara masih banyak orang yang masih mencintai dunia dan isinya melebihi mengasihi Tuhan, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat 10:39)

Hambatan-hambatan tersebut ada di setiap orang, dan itu hal yang wajar. Masih banyak hambatan yang kadang muncul, kelihatannya tidak bahaya. Akan tetapi suatu saat hambatan tersebut akan mematikan iman dan pengharapan kepada Tuhan tanpa disadari akan hilang.

Keselamatanpun bukan berdasarkan atas apa agama kita, mungkin saja kita sudah Kristen. Bahkan mungkin saudara sudah melayani Tuhan di Gereja, kalau kita tidak mencari tahu lebih banyak dan melakukan kehendak Bapa diSurga maka kitapun tidak selamat. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21) Bukan hebatnya Gereja, atau pendeta kita diselamatkan. Tetapi  yang menentukan adalah mencari kesenangan Bapa. Renungkan ayat selanjutnya, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"” (Mat 7:22-23) Ini berbicara orang-orang yang sudah melayani, menjadi orang yang hebat (secara manusia) tetapi Tuhan tidak mengenalnya. Haleluyah
Bagaimana kita semua ? sudahkah melayani mencari kesenangan Bapa, atau masih mencari kesenangan manusia ?