Minggu, 29 Desember 2013

PERENUNGAN BULAN NATAL


            Ketika Lukas memulai kisahnya, dia memulainya dengan silsilah dari Maria, sang ibu. Dan kemudian dia melanjutkannya dengan kelahiran dari sang perintis jalan, kelahiran dari Yohanes Pembaptis, yang berlangsung seperti ini. Ada seorang iman dari rombongan Abia, yang bernama Zakharia, dan mereka membuang undi untuk menentukan imam yng bertugas untuk masuk ke Bait Suci dan membakar kemenyan kepada Tuhan.
            Hanya sekali waktu dalam masa hidup dari seorang imam untuk mendapat kesempatan seperti itu, itupun hanya sedikit orang dari mereka yang memperolehnya. Dari seratus orang imam, hanya sedikit dari mereka yang memiliki kesempatan untuk masuk ke ruang maha suci, dan mereka memilih imam itu berdasarkan undi, dan akhirnya tugas itu jatuh ke tangan Zakharia, imam yang sudah cukup tua.
            Dan dia masuk ke ruang maha kudus, dan  di sana, di depan altar emas, dia membakar ukupan ke hadapan Allah di sorga, pada saat doa malam, sementara orang-orang berkumpul di luar saat asap kemenyan naik ke hadapan Allah yang di sorga.
            Tiba-tiba seorang malaikat menampakkan diri kepadanya dan mengumumkan kelahiran Yohanes Pembaptis, sekalipun dia sudah tua, dan Elisabeth juga sudah tua, akan tetapi mereka akan memiliki anak yang akan diberi nama Yohanes.         
Dan ketika bocah itu lahir, lidah Zakharia yang sebelumnya kelu, atau bisu, kemudian terlepas, dan dia bernubuat dan inilah yang dia sampaikan, “Dan, engkau hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya, untuk memberikan kepada umatNya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” 
            Seandainya kemudian saya dapat mengambil dari Kitab Suci dan pada musim kelahiran Kristus itu, menuntun kita di dalam doa kita, mempersembahkan kemenyan kepada Allah, doa-doa kita kepada Allah, dan kita berdoa untuk kedamaian, untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.
Apa yg akan kita buat di tahun 2014. Haleluyah

Kamis, 19 Desember 2013

WAKTUNYA SUDAH GENAP


WAKTUNYA SUDAH GENAP
(THE FULLNESS OF TIME) 
Galatia 4:4
20-12-2013
            Kami mengucapkan selamat datang kepada anda sekalian yang menghadiri kebaktian yang patut mendapatkan pujian ini bersama kami di the First Baptist Church of Dallas. Dan saya, gembala sidang, yang akan menyampaikan sebuah khotbah mengenai penjelasan dari ayat di dalam Galatia 4:4, yang saya beri tema Waktunya Sudah Genap.
            Ayat di dalam Galatia 4:4 berbunyi :
“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada Hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (LAI)---dengan demikian kita termasuk menjadi bagian dari keluarga Allah yang indah, berharga dan menyembah-Nya..
“Setelah Genap Waktunya”---pleroma, diterjemahkan dengan “genap”. Kata tersebut mempunyai arti, persiapan yang sudah rampung. Tujuan kasih karunia Allah berjalan sepanjang tahun, abad, dan selama beribu-ribu tahun. Pleroma (kegenapan) Allah. Persiapan menyeluruh yang dikerjakan Tuhan Allah untuk kedatangan Anak-Nya ke bumi.
Waktu adalah penciptaan. Kita hidup di dalam waktu. Tetapi bagi Allah tidak ada yang namanya waktu. Allah merencanakan seluruh rencana sejarah umat manusia, Dia adalah Alpha dan Omega, dan semuanya itu ada oleh pertimbangan-Nya. Dia sudah merencanakannya sejak semula. Bagi Allah tidak ada yang namanya waktu. Saya membayangkan waktu selama beribu-ribu tahun dimana Allah menciptakan dunia yang sangat menakjubkan di sekitar kita ini, dengan pekerjaan tangan-Nya yang kreatif.
            Apabila anda pernah ke Grand Canyon, anda dapat melihat sejauh satu mil ke bawah. Dan ketika pandangan mata anda sampai ke dasar bumi, anda akan melihat Sungai Colorado mengalir berkelok-kelok di kedalaman tiga ratus kaki di bawah batu yang padat, keras dan kokoh. Para ahli geologi berpendapat bahwa batu keras yang terdapat di bawah jurang tersebut, dulunya merupakan pegunungan yang tingginya dua-puluh-enam kaki, dan waktu yang bejalan selama beribu-ribu tahun itu membuat batu-batu tersebut menjadi aus sampai akhirnya terkubur di bawah jurang.
            Allah tidak terburu-buru. Allah tidak tergesa-gesa dan tidak berubah. Dan di dalam pleroma (kegenapan) Tuhan Allah, Dia merancangkan maksud-maksud kasih karunia-Nya selama berabad-abad. Kadang-kadang, bagi sejarah manusia rasanya berjalan sangat lama sekali baru kita bisa melihat maksud dari karya Allah, tetapi Dia bekerja, Dia menuntun, Dia mengarahkan---itulah kepenuhan Allah.
            “Tetapi setelah genap waktunya”---chronos. Kita menggunakan kata tersebut dengan banyak kombinasi dalam bahasa Inggris—chronology atau chronicles. Chronos, waktu. Allah telah mengatur waktu untuk segala sesuatunya, sebagaimana yang ditulis di dalam kitab Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (NKJV).  Ada waktu untuk lahir---anda tidak berkuasa apa-apa atas hal ini. Ada waktu untuk meninggal, di dalam maksud dan kasih karunia Allah. Ada waktu dimana Allah akan membangkitkan kita dari kematian. Ada waktu kita berhadap-hadapan dengan-Nya di sorga, dan Tuhan akan memberikan kita penghargaan atas hasil kerja kita---suatu waktu, suatu waktu yang telah direncanakan, setelah genap waktunya.
            Oleh sebab itu, ada waktu Tuhan harus dilahirkan dan seluruh sejarah serta zaman berpusat kepada kejadian tersebut. Ada waktu, suatu waktu yang sudah direncanakan bagi Dia untuk disalibkan. Ada waktu, suatu waktu  bagi Dia untuk dibangkitkan dari kematian. Ada waktu, suatu waktu yang sudah direncanakan bagi Dia untuk naik ke sorga. Dan ada waktu, suatu waktu yang sudah direncanakan dimana Tuhan akan datang kembali.
            Saudara-saudara, firman di dalam kitab Roma 11, ayat 25, adalah ayat yang digunakan Paulus untuk menerangkan kejadian itu secara jelas. Begini bunyinya : “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini : Sebagian dari Israel telah menjadi tegar..” (NKJV). Ada suatu kumpulan orang (musterion), sebuah rahasia yang Allah simpan di dalam hati-Nya “sampai jumlah yang penuh (pleroma) dari bangsa-bangsa lain telah masuk”---sampai bangsa-bangsa lain yang harus ditebus masuk ke altar.
            Lalu, di ayat selanjutnya, ayat 26, kemudian akan datang sang Penebus Agung, Tuhan Yesus kita, sang Raja, turun dari sorga untuk menjadi Tuhan atas seluruh bumi ini. Ada suatu waktu yang sudah dirancang untuk kedatangan sang Penyelamat kita. Sesuai dengan tujuan Allah, semua sejarah bergerak ke arah pencapaian akhir tersebut. Kegenapan (pleroma) sejarah.
            Kemudian Paulus menyatakan, “setelah genap waktunya”---waktunya sudah genap--“ untuk waktu yang sudah datang, Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan.”
            Persiapan yang Tuhan Allah lakukan untuk kedatangan Anak-Nya ke bumi. Pertama-tama saya akan membicarakan mengenai hal yang berhubungan dengan pengkhotbahan, agama, persiapan yang dilakukan oleh Allah. Ketika mereka dibuang ke Babel untuk dijadikan budak, dan Bait di Yerusalem dihancurkan, dan tidak ada lagi pengorbanan dan tidak seorang imampun yang menghadap kepada Tuhan, bagi bangsa Yahudi, bangsa yang berada dalam pembuangan sebagai budak, itu merupakan suatu penderitaan yang tidak terlukiskan.
Mazmur 137 mencerminkan luka hati dan kepedihan yang dirasakan oleh bangsa yang hancur:
“Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu, kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita, meminta kepada kita, memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita : “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion !” Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing ? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku ! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku !”
            Melalui penderitaan dan tragedi serta kepedihan dari bangsa yang hancur dan berada dalam pembuangan di Babel tersebut, dari sanalah asalnya maksud-maksud Allah akan kedatangan Anak-Nya ke dunia.
            Ada 3 hal yang timbul dari pembuangan ke Babel ini. Hal yang pertama, setelah itu dan untuk selamanya, bangsa Yahudi menjadi bangsa yang menyembah kepada satu Tuhan. Sepanjang sejarah, bangsa tersebut jatuh ke dalam perzinahan dan penyembahan berhala, tetapi setelah pembuangan, di dunia yang memuja dewa-dewa dan memuja berhala, bangsa Yahudi sendiri tetap menyembah kepada satu Tuhan, yang menunjuk pada satu Allah yang benar di bumi.
            Hal yang kedua, dari kepedihan dan luka hati selama dalam pembuangan ke Babel, keluarlah peraturan dasar Kitab Suci. Ezra dan para pengurus sinagog mengumpulkan seluruh tulisan-tulisan suci dari Tuhan, dan kemudian dijadikan sebagai Kitab Allah.
            Hal yang ketiga, dari pembuangan ke Babel terbentuklah perhimpunan umat Allah. Tidak ada lagi tempat pemujaan atau ritual atau korban, selain dari perhimpunan umat---sinagog---perhimpunan umat Allah. Sinagog dibentuk saat pembuangan ke Babel.
            Dan itulah penggenapan dari Allah untuk kita. Dengan berdiri menentang dunia ini, pengkhotbah dan misionaris Kristen menyembah kepada satu-satunya Tuhan Allah, sang Penyelamat dunia, tidak ada yang lainnya. Karena Dia sendiri adalah Raja dan Tuhan atas langit dan bumi.
            Selain itu, pengkhotbah Kristen teguh berdiri dengan sebuah Kitab Suci di tangannya, yaitu Firman yang diilhami, yang suci, dan sempurna dari Allah yang hidup.
            Dan hal yang ketiga, perhimpunan umat Allah di Bait Allah, jemaat yang merupakan keluarga Allah yang telah ditebus. Penggenapan, maksud Allah, menggerakkan sejarah umat manusia.
            Saudara-saudara yang terkasih, saya akan menyimpang sedikit dari sini---hanya satu firman dari khotbah ini. Selalu saja ada tujuan akhir Allah dari penderitaan yang dialami oleh umat manusia, selalu. Mungkin saya tidak mengetahuinya. Mungkin tidak melihatnya. Mungkin saya tidak mengalaminya, tetapi pasti ada penggenapan---ada suatu maksud akan kasih karunia melalui penderitaan yang dialami oleh umat manusia.
            Saya membayangkan kisah Stefanus, yang mati syahid di dalam kitab Kisah Para Rasul. Orang-orang saleh meratap sedih dengan suara keras, saat mereka membawa tubuh pengkhotbah yang  penuh Roh Kudus itu, yang mati syahid karena lemparan batu dan dibunuh, ke kuburnya. Tetapi melalui kejadian itu---penganiayaan di seputar kematian Stefanus, para pengkhotbah dan misionaris Kristen menyeberang ke dunia yang sudah maju. Itulah tujuannya.
            Dan contoh yang lainnya adalah ketika Saulus dari Tarsus bertemu dengan Yesus di perjalanan, Tuhan berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (NKJV).  Apakah yang Dia maksudkan dengan perkataan-Nya itu ? Kitab Kisah Para Rasul dan kesaksian Paulus itu jelas. Paulus tidak pernah melihat seseorang mati seperti cara Stefanus mati. Tetapi dia mencoba untuk menyimpannya dalam pikirannya dan mengingatnya, Stefanus yang sedang berlutut, sementara batu-batu yang dilemparkan akan menghabiskan nyawanya, mendoakan mereka yang membunuhnya. Dan kejadian itu mengubahnya. Memanggilnya. Dia menjadi utusan dan pembawa kabar iman kepada Allah yang berani.
            Selalu ada maksud di dalam penderitaan, dan itu terjadi di dalam hidup anda. Terjadi di dalam kehidupan kita. Dan apabila kita bersedia, namun dengan tegar dan iman, suatu hari Allah akan membuatnya jelas. Dia akan menjelaskannya kepada anda. Ada alasan untuk itu. Ada suatu pleroma (penggenapan) yang sedang bekerja di bumi ini, yaitu maksud akan kasih karunia Allah.
            “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan”.
            Tidak hanya ada khotbah, agama, persiapan, untuk kedatangan Tuhan kita ke bumi ini, tetapi juga ada sejarah, suatu persiapan budaya.
            Alexander Yang Agung, ketika dia mulai menaklukkan dunia yang sudah maju, membawa serta gurunya, Aristoteles. Dan Alexander yang Agung membuat seluruh dunia ini berbahasa Yunani. Badan-badan Yunani, filosofi Yunani, arsitektur Yunani, dan kebudayaan Yunani serta berbahasa Yunani---dari satu satu kerajaan ke kerajaan lainnya, seluruh dunia yang berada ini berbahasa Yunani. Mereka berbicara bahasa Yunani.
            Ketika Alexander meninggal pada usia tiga puluh tiga tahun---dia seumur dengan Tuhan kita. Ketika Alexander yang Agung meninggal, kerajaannya dibagi oleh keempat jenderalnya menjadi empat bagian, dan mereka menjalankan Helenisasi Yunani terhadap dunia yang sudah maju tersebut. Cassander menguasai Makedonia, bagian Eropa Kerajaan Yunani. Lysimachus menguasai Asia Kecil. Seleucus, yang anaknya bernama Antiochus, menguasai Syria. Dan Ptolemy menguasai Mesir.  Dan mereka terus menjalankan Helenisasi terhadap dunia yang sudah maju tersebut. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya menjadi Yunani.
            Oleh sebab itu, ketika pengkhotbah Kristen, seorang penginjil, maju terus menyatakan pekerjaan Allah yang menakjubkan di dalam Jesus Kristus, mereka menyampaikannya dengan sebuah bahasa yang universal. Dari satu satu wilayah ke daerah wilayah lainnya, mereka menyampaikan khotbah dalam bahasa Yunani dan seluruh dunia dapat mengerti. Ketika Paulus menulis suratnya ke kota besar Roma, yang dia beri judul Kitab Roma, dia menulisnya dalam bahasa Yunani. Dan ketika Rasul Yohanes menulis surat-suratnya kepada tujuh jemaat di Asia, dia menulis surat-surat tersebut dalam bahasa Yunani. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya dari kerjaan itu, berbahasa Yunani.
            Dan para pengkhotbah pertama Kristen itu, para pemenang jiwa-jiwa, para pemberita dari kasih karunia Allah yang menakjubkan, ketika mereka berdiri di mana saja di dunia yang sudah maju itu, mereka dapat mengerti dan dapat mendengar. Bahasa Yunani. Tanpa disadari Alexander yang Agung atau angan-angan para penerusnya dalam membangun kerajaan Yunani, mereka sebenarnya sedang mempersiapkan jalan, penggenapan, untuk kasih karunia Allah akan kedatangan Yesus Kristus.
            “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan”.
            Yang dipersiapkan dalam penggenapan Allah, yaitu tujuan-tujuan Allah dalam sejarah umat manusia, tidak hanya dalam bidang agama dan kebudayaan saja. Ada juga persiapan di bidang politik untuk mempersiapkan kedatangan bayi Kristus ke dunia. Kerajaan Roma menggabung seluruh bangsa di dunia menjadi satu seperti jalan-jalan Roma. Anda dapat berjalan di mana saja. Anda dapat pergi ke mana saja. Dari Kerajaan Inggris di sebelah utara ke Sungai Indus di sebelah timur, jalan-jalan Roma ada di mana-mana, dan itu bebas serta dilindungi.
            Mereka mempunyai salah satu dari sistim-sistim pengeposan yang terbaik yang pernah dimiliki dunia. Anda dapat mengirim surat-surat dari satu sisi dunia yang sudah maju ke dunia maju lainnya. Dan masyarakat hidup di dalam keamanan yang kuat. Tidak ada perang. Tidak ada pertempuran. Hanya ada Pax Romana, suatu pakta keamanan Roma yang universal.
            Di kota Roma, ada kuil Yanus, yaitu dewa pintu, jalan raya, dan gerbang bangsa Romawi. Dia memiliki dua wajah, saling bertolak belakang. Pada bulan Januari, yang menjadi asal dari namanya, merupakan pesta yang diadakan baginya. Wajah yang satu menghadap ke belakang, dan yang satunya menghadap ke depan. Pada masa-masa perang, maka gerbang-gerbang, pintu-pintu kuil Yanus terbuka. Para tentara siap untuk bertempur. Pada masa-masa tenang, maka pintu-pintu kuil Yanus akan menutup. Selama bertahun-tahun, di masa-masa ke-Kristenan mulai, pintu-pintu kuil Yanus tertutup.
            Dan para misionaris Kristen dan para murid Tuhan kita, serta para pengkhotbah Kitab Suci Yesus, turun ke jalan-jalan raya dan jalan-jalan umum kota Roma, dengan tenang dan aman, memberitakan kabar kasih karunia keselamatan dari Anak Allah, penggenapan, yaitu penggenapan waktu.
            Tanpa pernah disadari oleh setiap Kaisar bahwa apa yang mereka lakukan dengan membangun Kerajaan tersebut, sebetulnya dia sedang mempersiapkan dan membuka jalan untuk datangnya pengkhotbah Tuhan Yesus kita. Sebuah mujizat akan kasih karunia Allah.
            Di dalam penggenapan Allah akan tujuan-tujuan kasih karunia, yaitu persiapan yang sutuhnya akan kedatangan Tuhan kita---yang diperlukan tidak hanya agama, yaitu pekerjaan Allah melalui umat-Nya, dan tidak hanya budaya, dengan bangsa Yunani dan badan-badannya, dan tidak hanya bidang politik, dengan Kerajaan Romawi mengenai jalan-jalannya serta keamanannya yang universal, tetapi juga persiapan pribadi di sorga.
            Saya seringkali bertanya-tanya---dan anda juga---apa maksudnya ketika Kitab Wahyu, Penyingkapan, menggambarkan Yesus sebagai Domba Jantan yang dibantai, sejak dari sebelum dunia ini diciptakan. Mundur jauh ke belakang, di kegelapan sejarah yang ribuan tahun jaraknya, sebelum penciptaan dunia ini, Yesus, di hapadapan Allah, adalah Domba Jantan yang dibantai untuk menghapus dosa umat-Nya.
            Di dalam Kitab Ibrani, di sana digambarkan tempat dan waktu di mana Anak, pribadi kedua dari Tritunggal Allah, menawarkan, menyerahkan dirinya secara sukarela menjadi Penyelamat dunia : “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku” (Ibrani 10:7, NKJV). “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku” (Ibrani 10:5, NKJV). Kemudian penulis Kitab Ibrani menggambarkan peristiwa inkarnasi itu :"Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya"(Ibrani 2:16-17, NKJV).  "Dan dalam hal demikian, sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbua dosa" (Ibrani 4:15, NKJV). Supaya Ia menjadi Imam Besar yang setia dan penuh belas kasihan, yang mengerti akan pencobaan kita, sehingga Ia dapat menjadi perantara dan menjadi pendoa syafaat kita, karena Dia juga mengerti akan pencobaan-pencobaan yang kita hadapi.
            Penggenapan Allah, akan maksud-maksud Allah, sebelum dunia dijadikan.
            Kemudian, pada suatu waktu di bumi, keturunan perempuan itu, Protevangelium, kitab suci demi kitab suci. Di dalam kitab Kejadian 3:15 : “Keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala iblis”. Para rabi-rabi zaman dulu bertanya-tanya mengenai hal itu : “keturunan perempuan.” Wanita tidak memiliki benih ! Tetapi laki-laki yang memiliki benih. Namun nubuatan tersebut berkata, “keturunan perempuan itu akan meremukkan kepalanya.”
            Kemudian janji kemuliaan muncul kembali di zaman Abraham. “Dan melalui keturunanmu, sebagai satu keluarga,” Paulus berkata, “Dan melui keturunanmu, sebagai satu keluarga, semua keluarga di bumi ini akan diberkati,” keturunan perempuan itu.
            Dan nubuatan yang indah yang disampaikan oleh Mikha di dalam Mikha 5, ayat 2 : “Tetapi engkau, hai Bethlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (NKJV). Dia selalu memperhatikan.
            Dan hari itupun tiba. Setelah genap waktunya, akan lahir dari seorang perempuan. Dan di jalanan yang berbatu menuju ke Bethlehem, perempuan itu berjalan, dalam keadaan mengandung tua. Dan Yusuf berjalan di sebelahnya.
            Dan hari itupun tiba, dan saat itupun tiba, penggenapan Allah, ketika persiapan yang yang lengkap sudah selesai. Dan malaikat pun bernyanyi seraya berkata, “Dan inilah tandanya bagimu  : Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:12, NKJV), suatu tanda abadi yang akan manusia heran selama-lamanya. Dibungkus dengan lampin, karena begitu miskinnya sehingga tidak ada sedikit pun bahan untuk dibuat baju, tidak ada baju untuk dibuat bagi bayi itu, hanya dibungkus dengan kain lampin. Lahir di sebuah kandang, dan terbaring di dalam palungan, suatu tanda yang akan membuat manusia heran selama-lamanya. Di sana, seorang wanita dimuliakan. Di sana, seorang ibu dikuduskan, dan di sana, seorang anak diagungkan, dimuliakan. Ya, ampun, bagaimana hal itu bisa terjadi ?
            “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan”, sehingga Dia dapat menebus kita untuk diangkat menjadi keluarga Allah. Ya Tuhan, Tuhan, betapa Kitab Suci yang indah, betapa pujian dan sukacita dan ucapan syukur yang menakjubkan---saat Natal, saat inkarnasi, saat kelahiran, saatnya Yesus, datang ke dunia untuk menebus kita bagi Allah.
 SELAMAT MENGALAMI NATAL YG SESUNGGUHNYA. (Jes)

Senin, 09 Desember 2013

TANGISAN NABI IBRAHIM


TANGISAN NABI IBRAHIM AL KHALIM
Dengan imanku aku mempercayai yang kudengar dari Allah Taala,
Bahwa bangsa yang besar akan lahir dari keturunanku,
Sepenuhnya aku meyakini hal itu,
Akan tetapi semakin aku meyakini janji, semakin berat tantangan yang kuhadapi,
Sementara kenyataannya Sarah istriku mandul,
Harapan seolah sirna dari tahun ke tahun berikutnya,
Banyak orang mulai mencemooh,
Mengolok-olok bukan hanya imanku kepada Allahku,
Tetapi kondisiku juga tidak mendukung,
 Semakin tua....,
Sarah yang mandul tetap saja mandul,
Kerentaan terjadi sementara janji Allah terus terngiang,
Seperti berdiri di persimpangan yang harus salah satu jalan kupilih,
Aku harus melakukan sebagai lika-liku kehidupan,
Mengawini wanita atas bujukan seorang istri yang patah harapan,
Akhirnya aku harus mempunyai dua anak dari dua istri,
Masyaallah......
Bersatulah dan hiduplah rukun wahai keturunanku semua,
Aku sudah pernah mengajarkan tentang Allah Taala kepada Ismael dan Ishak,
Sekarang keturunannya otomatis juga keturunanku.

Jumat, 29 November 2013

MENGENAL MASALAH DIDALAM TUHAN


Masalah-masalah yang kita hadapi bisa membuat kita jatuh atau bertumbuh, tergantung dari bagaimana cara kita menanggapinya. Sangat disayangkan banyak orang gagal untuk melihat bagaimana Tuhan menggunakan masalah untuk kebaikan mereka. Mereka lebih memilih untuk bertindak bodoh dan membenci masalah-masalah mereka daripada menghadapi dan merenungkan kebaikan apa yang bisa mereka dapat dari masalah-masalah tersebut. Ada lima cara Tuhan menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan kita untuk menjadi sesuatu kebaikan bagi kita:

(1) Tuhan menggunakan masalah untuk MENGARAHKAN kita. Kadang-kadang Tuhan harus menyalakan api di bawah kita untuk membuat kita tetap bergerak. Sering kali masalah yang kita hadapi akan mengarahkan kita ke arah yang baru dan memberikan kita motivasi untuk berubah. Ada kalanya masalah menjadi cara yang Tuhan pakai untuk menarik perhatian kita.

(2) Tuhan menggunakan masalah untuk MENGUJI kita. Manusia bagaikan teh celup… jika anda ingin tahu apa yang ada di dalamnya, celupkan saja ke dalam air panas! Tuhan kadang ingin menguji kesetiaan kita melalui masalah-masalah yang kita hadapi. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2-3).

(3) Tuhan menggunakan masalah untuk MENGOREKSI kita. Ada pelajaran-pelajaran yang hanya dapat kita pelajari melalui penderitaan dan kegagalan. Mungkin waktu kita masih kecil orang tua kita mengajar kita untuk tidak boleh menyentuh kompor yang panas. Tetapi mungkin kita baru benar-benar belajar justru setelah tangan kita terbakar. Kadang-kadang kita baru bisa menghargai sesuatu… kesehatan, teman, hubungan…, saat kita sudah kehilangan. “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mazmur 119:71).

(4) Tuhan menggunakan masalah untuk MELINDUNGI kita. Suatu masalah bisa menjadi berkat jika masalah tersebut menghindarkan kita dari bahaya. Tahun lalu ada seorang Kristen yang diberhentikan dari pekerjaannya karena ia menolak untuk melakukan sesuatu yang tidak etis bagi bossnya. Ia menjadi mengganggur, tetapi justru dari masalah itulah ia terhindar dari ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara,karena setahun kemudian tindakan boss itu terbongkar. “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kejadian 50:20).

(5) Tuhan menggunakan masalah untuk MENYEMPURNAKAN kita. Jika kita menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk kita. Tuhan lebih memperhatikan karakter kita daripada kenyamanan kita. Hanya hubungan kita dengan Tuhan yang akan kita bawa sampai kekal. ” … Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudusyang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-4)

Hadapi masalah dengan bersandar sepenuhnya hanya kepada Tuhan, maka akan banyak jalan ditawarkan untuk menjadi jalan penyelesaian dengan cara ALLAH. Amin

Kamis, 28 November 2013

PELAYANAN BERSAMA DR KANG DARI KOREA di KUTAI BARAT

Banyak yang saya dapat pelajari dari perjalanan pelayanan bersama dr Kang, walau banyak sekali perbedaan dalam adat dan etika kehidupan.


Betapa itu adalah hal yang ajaib! “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.”
Ada tiga kata bahasa Yunani untuk dunia. Yang pertama adalah “ge” Kata geografi berasal dari kata ini. “Ge” adalah kata Yunani yang berhubungan dengan dunia dalam pengertian sesungguhnya, yaitu tanah atau substansi dari dunia ini. Yang kedua adalah oikoumene. Kata Oikoumene mengacu kepada dunia sebagai tempat untuk didiami. Dan yang ketiga adalah kosmos. Ini berhubungan dengan ciptaan Allah yang begitu indah dan teratur. Kata ‘kosmetik’ berasal dari kata ini yang berarti cantik atau indah.
            Dan kata ‘kosmos’ inilah yang digunakan dalam ayat ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia (kosmos) ini,” atau karya Tuhan yang terbaik, terindah ini.
Namun segala sesuatu yang kita lihat dalam dunia ini mengingkari kasih dan kehadiran Allah. Allah nampak begitu terpisah dari alam semesta ciptaan-Nya. Ketika badai dan berbagai bencana melanda sepertinya Tuhan begitu jauh.
            Cerita-cerita perang dan penumpahan darah serta pembunuhan, terorisme dan berbagai penyakit yang secara universal dialami manusia dan akhirnya kematian – Bagaimana di dalam kasih Allah melihat semua itu sementara Ia memisahkan diri darinya? Bagaimana mungkin Allah melakukan itu dan kemudian berkata mengasihi dunia ini?
Hanya dengan kehadiran Roh Kudus kita dapat memahami kasih-Nya terhadap alam semesta atau dunia yang telah jatuh dan terhilang ini.
Kutai barat sangat memerlukan kasih Allah melalui pelayanan setiap hamba-hamba Tuhan, dan seluruh orang percaya. Tinggalkan kepentingan pribadi, mulai menjangkau jiwa-jiwa yg masih banyak yg belum terselamatkan. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh 15:16).
Haleluyah 

KASIH UNTUK DUNIA YANG TERHILANG (LOVE FOR A LOST WORLD)



“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya”
 (Yohanes 3:14-18, 36).
            Seluruh dunia, alam semesta, seluruh ciptaan telah jatuh dan berada di bawah kutuk dosa. Begitu juga manusia yang diam di bumi ini adalah manusia yang telah mengalami kerusakan dan terhilang di dalam kegelapan. Mengapa Allah tidak melenyapkannya saja? Mengapa Allah harus peduli terhadap alam semesta yang telah jatuh dan manusia yang telah bobrok dan mengalami kerusakan ini? Mengapa Allah tidak mengabaikan kita?
            Di gereja yang pertama kali saya gembalakan di sebuah desa, saya memiliki seorang rekan sepelyanan yang sangat mengasihi Tuhan. Istrinya bekerja dan mau membiayai pelayanan suaminya. Akan tetapi akhirnya isterinya menceraikannya, isterinya berselingkuh dan meninggalkan suaminya yg sangat mengasihinya.
            Dan saya bertanya kepada suami ini, mengapa anda tidak bertindak tegas kepada isteri yg sedemikian rupa telah mengkhianati cinta kalian ? rekan saya tersebut tetap mengampuni dan justru mau mengajak kembali kalau masih mau untuk menjadi isterinya.           
Kasih dan kepedulian Allah ada di Taman Eden: “Adam, Di manakah engkau?” Allah mencari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.
            Coba Anda perhatikan bagaimana cara Allah menggambarkan kasih dan kepeduliaan-Nya kepada umat-Nya yang berdosa, itu di gambarkan dalam kehidupan Hosea yang mengambil istri seorang sundal atau pelacur, namun setelah menikah kemudian istrinya itu melacurkan dirinya kembali, dan akhrinya menjadi budak. Sama seperti gambaran hidup Hosea, Allah datang ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya  dari perbudakan dosa. 
Atau coba perhatikan dalam Perjanjian Baru, Yesus datang ke dalam dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan kita semua yang terhilang. Atau perhatikan lagi kisah dari iman Kristen di sepanjang abad. Tuhan mengutus para rasul dan misionaris dan para martir sampai akhir dari dunia ini, semata-mata untuk menunjukkan kasih dan kepeduliaan Allah mencari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk diselamatkan.
            Salah satu bagian Alkitab yang indah yang dituliskan Rasul Paulus adalah dalam Efesus 3:18, “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Itu melampaui pengertian kita.
Sungguh tidak masuk akal! Kasih Allah di dalam Kristus sungguh tak terukur. Kasih-Nya tiada batas. Sungguh kasih itu tiada terhingga. Bagaimana Anda dapat menjelaskan dan memahaminya?
Apakah Anda pernah mendengar kisah tentang Harry Morehouse?  Dwight L. Moody menutup kebaktian kebangunan rohaninya di Birmingham, England.  Dan mereka berkumpul untuk mengucapkan selamat jalan kepada Moody yang akan kembali ke Amerika. Seorang muda dalam jemaat itu ikut memberi ucapan selamat jalan kepada Dwight L. Moody, dan nama anak muda itu adalah Harry Morehouse.
            Ia berkata kepada D. L. Moody, “Saya akan datang ke Amerika. Dan ketika saya sampai di sana, saya akan berkhotbah untuk Anda.” Pada umumnya Anda tidak menyodorkan diri Anda sendiri untuk berkhotbah. Biasanya seseorang berkhotbah oleh karena ada yang mengundangnya. Namun itulah yang anak muda itu katakan kepada Moody.
Dan Moody menjawab dengan bijaksana, “Yah, ketika Anda tiba di Amerika, hubungi kami. Kami akan menerima Anda dengan senang hati.”
Sekitar enam bulan kemudian, ketika D.L. Moody ada di Chicago, ia menerima telepon dari Harry Morehouse yang ada di New York City. Anak muda itu berkata kepada Moody, “Saya telah tiba di Amerika. Saya ada di New York. Saya ingin berada di Chicago pada hari Rabu dan saya ingin berkhotbah untuk Anda Rabu malam.”
            Ketiba Rabu tiba, Moody harus pergi keluar kota, namun ia telah meninggalkan pesan kepada diakennya, “Ada anak muda yang akan datang kemari yang bernama Harry Morehouse. Ia berasal dari Birmingham, England. Dan berilah kesempatan kepadanya untuk berbicara beberapa patah kata saja.”
            Apa yang terjadi ketika mereka menjemput anak muda itu, dan anak muda itu kemudian berdiri dan berkhotbah di sana. Ia berkhotbah dari Yohanes 3:16. Dan ketika kebaktian berakhir undangan diberikan, dan kira-kira ada sepuluh orang diselamatkan. Itu adalah jam yang luar biasa.
            Kemudian para diaken berkata kepada anak muda itu, “Besok malam atau Kamis malam kami ada kebaktian, dan Anda yang akan menyampaikan Firman Tuhan lagi.” 
Kamis malam anak muda itu kembali menyampaikan Firman Tuhan dari teks yang sama. Dan kira-kira ada lima belas orang diselamatkan. Itu sungguh luar biasa.
            Mereka berkata, “Jum’at malam kami ada kebaktian lagi. Dan Anda yang akan menyampaikan Firman Tuhan kembali.”
Anak muda itu menyampaikan Firman Tuhan dari teks yang sama: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.” Kemudian ia memberikan undangan dan kira-kira ada dua puluh orang diselamatkan. Itu sungguh sulit untuk dimengerti.
            Mereka berkata, “Sabtu malam, kami juga ada kebaktian lagi, dan kami minta Anda menyampaikan Firman Tuhan kembali.” Sabtu itu, D.L. Moody kembali ke Chicago. Dan istrinya berkata kepadanya, “Sayang, kita sedang berada di tengah kebangunan rohani yang luar biasa, kebangunan rohani yang ajaib. Banyak orang berubah dan bertobat.” Dan istinya melanjutkan, “Ketika kamu menghadiri kebaktian itu, pasti kami akan bertobat.” Moody menentangnya, dan berkata, “Saya telah berkhotbah lebih dari dua puluh tahun. Dan kamu katakan saya akan bertobat?”
            “Ya,” katanya. “Kamu akan melihatnya sendiri.”
            Ketika ia datang dalam kebaktian Sabtu malam itu, ia duduk paling depan. Ia duduk di sana dengan sikap meremehkan anak muda itu. Namun ketika anak muda itu menyampaikan khotbahnya, kira-kira ada tiga puluh orang yang bertobat. Itu sungguh sulit untuk dijelaskan. Anak muda itu secara terus menerus berkhotbah dari ayat yang sama setiap malam di gereja itu selama enam minggu berturut-turut dan kebangunan rohani yang agung terjadi, Roh Kudus dicurahkan di sana
            Ketika pelayanan itu berakhir, Moody berkata, “Istriku benar. Saya telah ditobatkannya. Saya telah diubahkannya.” Ia berkata, “Selama ini saya berkhotbah dari sisi Sinai. Berkhotbah tentang Neraka, penghukuman dan api dan kilat dan guntur. Namun,” katanya, “Saya telah berubah. Saya telah bertobat. Saya mulai sekarang akan mengkhotbahkan sisi yang lain, yaitu tentang kasih Allah, dan darah Yesus serta pencurahan kasih Roh Kudus.”
Jangan sekali-kali meremehkan Firman Tuhan, karena firman Tuhan berkuasa untuk mengubah kehidupan setiap pribadi. “Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.” (Ams 13:13)

Selamat masuk dibulan Natal 2013 dan mempersiapkan tahun baru 2014. Haleluyah

Senin, 11 November 2013

REMINDER



Galatia 2:20 "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."
Alkitab mengatakan kepada kita untuk "Tetaplah berdoa" (1 Tesalonika 5:17)

Bagaimana kita mampu melakukannya? Salah satu cara adalah dengan menggunakan "doa sebagai nafas" sepanjang hari, seperti apa yang dilakukan banyak orang Kristen selama berabad-abad. Jadi, Anda memilih satu kalimat singkat atau frase sederhana yang dapat diucapkan berulang-ulang kepada Yesus, dalam satu hembusan napas: "Engkau bersamaku." "Aku menyambut kasih karunia-Mu." "Aku mengandalkan-Mu." "Aku ingin mengenal-Mu." "Aku milik-Mu" "Bantu aku untuk percaya padaMu."
Anda juga bisa menggunakan sebuah frase singkat dari Alkitab: "Karena bagiku hidup adalah Kristus." "Engkau tidak akan pernah meninggalkanku." "Engkaulah Allahku."
Bawalah kalimat-kalimat ini dalam doa sesering mungkin, sehingga ia berakar dalam hati Anda. Dan pastikan bahwa satu-satunya motif Anda dalam melakukannya adalah untuk menghormati Allah, bukan untuk mengontrol-Nya.

Berlatih merasakan kehadiran Allah adalah suatu keahlian dan kebiasaan yang bisa Anda kembangkan. Sama seperti musisi yang mempelajari partiturnya setiap hari agar bisa memainkan musik yang merdu dengan lancar, Anda harus memaksa diri Anda untuk senantiasa memikirkan Allah di waktu yang berbeda sepanjang hari. Anda harus melatih pikiran Anda untuk mengingat-Nya.
Pertama, Anda harus membuat banyak pengingat (reminder), yang bisa membawa pikiran Anda kembali pada tujuan awal, yang menyatakan bahwa Allah menyertai Anda pada saat itu. Mulailah dengan menempatkan reminder yang mudah menarik perhatian Anda. Anda bisa menempel catatan kecil yang berbunyi, "Tuhan besertaku dan ada untukku saat ini!"

Percaya sepenuhnya bahwa TUHAN senantiasa menyertai kita, dan yg harus diketahui adalah kita pun harus menyertai Dia dengan setia. “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:10-11)

Sementara Gereja-gereja mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Natal (kelahiran Tuhan Yesus), sudahkah sebagai jemaat, orang percaya, kitapun mempersiapkan diri untuk menyambut Dia secara pribadi menjadi Tuhan, Raja dalam kehidupan dan mengalami pengalaman bersama Dia ?
Jika Anda sedang mencari pengalaman untuk merasakan kehadiran-Nya, mulailah sekarang juga untuk mengalami bersama Dia. Bukan kata orang, tetapi kita mampu mengalami hal-hal yg baru didalam Tuhan. Haleluyah